Senin, 03 November 2008

Kamis, 23 Oktober 2008

MENCEGAH BUDAYA KORUPSI

MENCEGAH BUDAYA KORUPSI
Indonesia memang ‘surga’ para koruptor. Entah mengapa, tindakan haram korupsi seolah-olah telah menjadi ‘kebiasaan’ sebagian pejabat kita. Koruptor sudah merajalela. Menurut Sekretaris Jenderal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M Syamsa Ardisasmita, berbeda dengan penanganan kasus korupsi sebelumnya pada tahun 1999-2004, kasus korupsi lebih banyak terjadi di DPRD. Tercatat ada 23 kasus korupsi di KPK yang melibatkan anggota DPRD di berbagai provinsi.
Lebih mengerikan lagi, aparat penegak hukum, yang seharusnya menjadi ‘pemburu’ koruptor, justru menjadi ‘backing’ koruptor. Terbukti terungkapnya kasus Kejaksaan Agung dengan Artalyta.
Yang lebih mengerikan lagi sekarang korupsi di lakukan secara ber jamaah, dan telah merambat di setiap bidang pemerintahan mulai dari Aparat Keamanan melalui kasus suap-menyuap dan kasus tilang yang uangnya hanya masuk kantong para aparat keamanan setempat, Aparat Hukum, Ranah Pemerintahan yang menjadi tempat nomor satu merajalelanya kasus korupsi, bahkan kini sudah merambat hingga dunia Pendidikan yang dilakukan oleh birokratnya sampai para pendidik yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi anak-anak bangsa ini.
Korupsi tidak jauh beda dengan kasus penipuan dan perampasan secara paksa hanya saja bahasa lebih keren karena di lakukan oleh kalangan ‘berdasi’ dan kalangan ‘intelektual’. Sekarang lewat pemerintahan SBY-JK kasus korupsi seakan-akan di tangani dengan serius, rakyat pun terpedaya.
Penanganan kasus korupsi sangat berbeda dengan kasus-kasus yang lainnya meskipun di depan mata kita aparat kelihatan tegas padahal tidak jarang dari para terpidana kasus korupsi yang mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari pada kasus-kasus yang lainnya bahkan mendapatkan bantuan hukum, meskipun kasus yang dia lakukan sudah sangat jelas di mata publik. Maka oleh sebab itulah kasus korupsi tidak pernah kunjung tuntas di negeri ini. Meski pun KPK berusaha dengan keras agar di setiap sudut kota di negeri ini di tuliskan Awas Bahaya Laten Korupsi, tidak akan pernah menghentikan korupsi.
Jika dilihat lebih dalam, ada dua hal yang mendasari terjadi nya korupsi. Pertama, mental aparat yang bobrok dikarenakan tidak adanya iman Islam di dalam tubuh aparat. Jika seorang aparat telah memahami betul perbuatan korupsi itu haram maka kesadaran inilah yang akan menjadi self control bagi setiap individu untuk tidak berbuat melanggar hukum Allah. Sebab, melanggar hukum Allah, taruhannya sangat besar: Azab neraka.
Kedua: kerusakan sistem politik dan pemerintahannya. Kerusakan sistem inilah yang memberi banyak peluang kepada aparatur Pemerintah maupun rakyatnya untuk ‘beramai-ramai’ melakukan korupsi. Peraturan undang-undang korupsi yang ada justru di indikasi ‘mempermudah’ timbulnya budaya korupsi karena hanya menguntungkan kroni penguasa.
Mahalnya biaya politik ‘Kampanye’ ini memicu para gubernur, bupati, walikota bahkan bisa jadi presiden akan bekerja keras untuk ‘mengembalikan’ modal politiknya yang selama kampanye telah dikeluarkan. Bukan hanya modalnya, ‘keuntungan pun’ tentu akan di buru juga. Jika sudah demikian, para pejabat publik secara umum akan sangat kecil kemungkinannya memikirkan kesejahteraan rakyat. Mereka hanya akan memikirkan bagaimana mengembalikan modal dan keuntungan politik berikut modal tambahan untuk maju ke pentas pemilihan kepala daerah ataupun presiden berikutnya.
Jadi tidak salah jika ada yang mengatakan sistem politik dan pemerintahan yang ada saat ini memang telah memacu percepatan terjadinya korupsi.
Lalu apakah kita akan percaya dengan pemilu yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 ini, mampukah pemilu nanti menghasilkan Pemimpin-pemimpin sejati seperti yang diharapkan yang akan membawa rakyat Indonesia kearah yang lebih baik. Jawab nya tidak. Pemilu hanya akan menghasilkan para koruptor yang tidak berperikemanusiaan, inilah dunia Demokrasi yang hanya akan membuat hukum menjadi mandul dan aparat yang bermental lemah.
Bukankah sudah terlihat begitu nyata, bahwa kerusakan telah merajalela dalam sistem dan orang (pejabat negara)? Kerusakan inilah yang kemudian memacu terjadinya korupsi, yang berujung pada kesengsaraan rakyat. Jika sistem dan orangnya saat ini telah terbukti menyengsarakan rakyat, apakah kita akan membiarkan sistem dan orangnya tetap memimpin negeri ini? Bukankah sudah saatnya kita menggantinya dengan sistem dan orang yang baik, sistem Islam dalam bingkai Pemerintahan Islam serta orang-orang yang berkepribadian Islami yang senantiasa memegang amanah? Bukankah saatnya Indonesia kita berubah menjadi lebih baik.
Untuk menghentikan Budaya Korupsi di perlukan sistem Islam bukan keberanian. Oleh sebab itu, langkah paling awal, seluruh konsepsi syariah yang dibutuhkan untuk mewujudkan kebangkitan akidah, sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem pendidikan, sanksi hukum, hukum pembuktian, politik luar negeri, dan sebagainya harus dirumuskan dan disiapkan dengan matang dan mendalam.
Ketika konsepsi syariah itu telah siap, agar umat berhasil dihimpun berlandaskan konsepsi itu, maka harus ada orang-orang yang secara terorganisasi melakukan kontak dinamis dengan umat untuk mensosialisasikan fikrah (konsepsi syariah) kepada mereka.
Momentum sekarang ini sangat pas kita jadikan momentum untuk membulatkan tekad guna berjuang sekuat tenaga mewujudkan kebangkitan umat Islam. hanya satu jalan untuk itu, yaitu dengan mengemban dan menerapkan akidah Islam dan sistem yang terpancar darinya dalam bingkai Pemerintahan Islam. Umat Islam khususnya dan umat manusia sedunia umumnya sejatinya tengah menunggu peran kita. Wallahu a’lam bi ashshawab.

Selasa, 21 Oktober 2008

Indonesia, Negeri yang Selalu Kalah

Indonesia, Negeri Yang Selalu Kalah

Demokrasi, Reformasi, Globalisasi, Swastanisasi, Privatisasi selalu saja dikaitkan dengan masalah bangsa ini, padahal tidak ada kaitannya sama sekali antara demokrasi dengan kemiskinan, globalisasi dan lain sebagainya. Yang menjadi titik pangkal dari masalah bangsa ini bukanlah karena bangsa ini tidak demokrasi dan lain sebagainya, padahal justru sebaliknya demokrasi lah yang membuka lubang persoalan bangsa ini.
Masalah utama negeri utopia ini bukanlah karena tidak diterapkannya sistem demokrasi dan reformasi atau tidak adanya globalisasi serta tidak ada swastanisasi, hal-hal yang disebut di atas sebenarnya bukan masalah terpenting, justru dengan adanya sistem-sistem sekuler di ataslah bangsa ini menjadi bangsa yang tertinggal, menjadi bangsa yang kerdil yang hanya bisa menghamba kepada barat. Sehingga bangsa ini menjadi negara yang ter korup sedunia. Dengan korupsi yang memakan sampai 30% dari anggaran total negara (apakah ini termasuk semua "markup biaya" dan gaji-gaji pegawai negeri yang tidak-produktif), dan alokasi anggaran negara untuk pendidikan yang kurang dari….?
Di negara kaya, seperti Indonesia, pendidikan sampai tamat sekolah menengah seharusnya gratis (biayanya dari pemerintah). Pendidikan adalah hal yang paling penting di negara yang sedang berkembang. Kalau sumber alam di kelola dengan baik, dan dengan tanah yang subur di mana-mana, seharusnya negara ini termasuk yang paling kaya di Asia Tenggara. Tetapi kalau kita melihat hal pendidikan, masyarakat terus meminta beasiswa dan biaya pendidikan seperti pengemis di pinggir jalan.
Pada waktu tahun 70an sampai 80an keadaan pendidikan di Indonesia dan Malaysia tidak begitu berbeda dan beberapa guru dari Indonesia dibawa ke Malaysia untuk membantu. Sekarang pendidikan di Malaysia termasuk yang paling baik di dunia, tetapi Indonesia tidak maju dan sekarang biaya pendidikan yang bermutu rendah saja sudah mulai menjadi di luar jangkauan kebanyakan masyarakat di Indonesia. Ditambah lagi mutu pendidikan sangat tertinggal, di negara-negara ASEAN saja mutu pendidikan Indonesia sudah jauh tertinggal bahkan berada di urutan terakhir setelah Vietnam, padahal kalau kita lihat Vietnam hanyalah sebuah negara kecil yang baru merdeka jauh sebelum Indonesia merdeka. Tetapi justru negara yang sempat dikatakan sebagai macan Asia ini menjadi negara yang miskin, bahkan Husian Matla dalam bukunya Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka mengibaratkan bangsa Indonesia sebagai negara yang miskin yang membiayai negara yang jompo.
Hal itulah yang terjadi sekarang, kekayaan alam bangsa ini terus saja dirampok oleh bangsa asing dengan sangat leluasa nya, penguasa kita hanya berdiam diri dan bahkan membiarkan Ibu Pertiwi ini di Perkosa oleh bangsa asing (dicuri sumber daya alamnya). Dan yang lebih aneh lagi munculnya undang-undang yang seakan-akan membantu asing untuk merampok kekayaan alam ini seperti undang-undang Penanaman Modal, undang-undang Migas, undang-undang sumber daya alam, undang-undang Kelistrikan dan lain sebagainya, serta memprivatisasi BUMN.
Kita dapat membahas soal-soal yang lain tetapi kita tidak dapat berharap akan ada kemajuan yang signifikan sampai pendidikan mendapat alokasi paling sedikit 25% dari anggaran negara.
Penderitaan rakyat ini sudah cukup banyak mulai dari masalah kelaparan sampai masalah tidak adanya jaminan kesejahteraan (pendidikan mahal, biaya kesehatan yang mahal, bahan pokok mahal serta keamanan yang seakan-akan hanya milik orang yang kaya dan konglomerat saja). Negara ini seperti negara yang tak ber penghuni, setiap saat dirampok asing tetapi sepertinya tidak ada tanggapan dari penduduk bangsa ini.
Kenyataan yang ironis, kaum miskin tetaplah miskin, pendidikan tetaplah hanya untuk orang-orang yang kaya, kaum miskin cukuplah hanya isapan jempol. Akses kesehatan hanya dinikmati orang kaya. Dan orang miskin selalu "dilarang sekolah" dan "dilarang sakit".
Sampai kapan semua ini akan berakhir? Yang lain sudah maju sedangkan kita bukannya berjalan di tempat tetapi malah jalan mundur, demokrasi dan reformasi yang dijanjikan hanya kebohongan belaka, sampai saat ini sudah 10 tahun reformasi, negara ini bukannya berjalan maju tetapi malah berjalan mundur. Yang dulunya mengekspor beras ke negara Vietnam kini justru malah mengimpor beras dari negara Vietnam. Apakah Kerajaan Majapahit yang dulu pernah menjadi swasembada beras kini setelah menjadi negara Indonesia telah hilang kesuburannya, dan apakah Sam yang dulu tandus kini setelah menjadi negara Vietnam menjadi subur.
Hingga saat ini krisis di segala segi masih mencengkram negeri kita. Ia seolah penyakit kronis yang sukar disembuhkan sehingga sempat membuat negeri ini “koma”. Salah satunya yaitu krisis ekonomi moneter.
Di tengah situasi perekonomian yang kontemporer saat ini, angka kejahatan semakin meningkat, sebagai salah satu dampak negatif dari krisis ekonomi. Ironisnya lagi, seiring dengan krisis ekonomi tersebut, krisis moral pun juga ikut merajalela. Bahkan banyak orang yang tega yang menghilangkan nyawa saudaranya hanya karena sesuap nasi. Realita ini tidak bisa kita pungkiri.
10 tahun sudah kebohongan reformasi telah menyelimuti kita semua, serta telah berpuluh-puluh tahun sudah demokrasi telah membuka lebar lubang penderitaan rakyat bangsa ini. Tidakkah kita mencoba menengok sistem yang dulu pernah berjaya berabad-abad, yang telah terbukti menghasilkan ilmuan-ilmuan handal seperti Ibnu Sina dan lain-lain. Yang telah mampu mensejahterakan 2 per 3 bagian bumi ini, dan yang telah melerai peperangan di muka bumi.
Hanya dengan menerapkan aturan Islamlah bangsa ini akan berjaya, tanpa itu semua negara ini akan selalu menjadi bahan olok-olokan bangsa di dunia. Dan berjuta-juta rakyatnya akan selalu menjadi penghamba. Sudah saatnyalah kita semua meninggalkan kebohongan ini, yang terus saja telah menghisap darah serta menggerogoti kulit-kulit rakyat bangsa ini. Setiap undang-undang yang dibuat oleh penguasa selalu saja tidak berpihak kepada rakyat tetapi justru berpihak kepada penguasa dan pengusaha.

Revolusi Mahasiswa Di Era Reformasi

REVOLUSI MAHASISWA DI ERA REFORMASI
Munculnya opini saat nya yang muda yang memimpin di akhir-akhir ini telah membuat mahasiswa banyak yang terlena akan janji-janji palsu itu. Selegon-selogan itu sering kali dikeluarkan oleh elit politik (parpol) untuk menarik minat mahasiswa. Sehingga mahasiswa pun larut dalam janji-janji itu.
Benarkah yang muda yang harus memimpin? Siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini tidak akan pernah membawa perubahan yang lebih baik, walaupun yang muda sekalipun karena persoalan bangsa ini bukan persoalan personil tetapi sistem yang mengatur roda pemerintahan ini. Sistem kapitalis sekuler yang dengan ganas telah merusak tatanan kehidupan bangsa ini sehingga rakyat nya sudah tak mampu lagi berpikir tentang hidup, alam semesta dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Kalau manusia ingin bangkit maka harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini untuk diganti dengan pemikiran lain yakni Islam sebagai ‘mabda’ idiologi.
Hingga saat ini krisis di segala segi masih mencengkram negeri kita. Ia seolah penyakit kronis yang sukar disembuhkan sehingga sempat membuat negeri ini “koma”. Salah satunya yaitu krisis ekonomi moneter yang dalam bahasa ngetrennya biasa kita sebut “krismon”.
Di tengah situasi perekonomian yang kontemporer saat ini, angka kejahatan semakin meningkat, sebagai salah satu dampak negatif dari krisis ekonomi. Ironisnya lagi, seiring dengan krisis ekonomi tersebut, krisis moral juga ikut merajalela. Bahkan banyak orang yang tega yang menghilangkan nyawa saudaranya hanya karena sesuap nasi. Realita ini tidak bisa kita pungkiri.
Lalu siapa yang akan membawa perubahan itu? Perubahan yang lebih baik untuk bangsa kita tercinta ini, apakah yang muda ataukah mahasiswa?
Mahasiswa UI rela mati saat menentang kenaikkan harga BBM, mahasiswa Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2, dan sejuta mahasiswa lainnya yang telah rela mengorbankan segalanya demi membela rakyat. Lalu mana yang muda?
Suara siapa yang masih bergema diantara hujan deras, di panasnya terik matahari, suara siapa yang masih bergema diantara sempitnya jalan perkotaan, suara siapa yang bergema ketika semau orang terluka, ketika semua orang sudah tidak mementingkan sanak saudaranya. Mahasiswalah yang telah menjadi pelopor perubahan itu. Kinilah saatnya mahasiswa berevolusi untuk memimpin perubahan ini bukan yang muda, kalimat yang muda hanya kalimat yang meracuni ribuan dan bahkan jutaan mahasiswa di Indonesia, kalimat yang hanya membubuhkan janji-janji palsu untuk mencari dukungan di kalangan mahasiswa.
Saatnyalah mahasiswa yang memimpin negeri ini, tingkat pendidikan bukan suatu jaminan untuk membawa bangsa ini lebih maju, presiden kedua kita saja hanya lulusan SD saja tetapi mampu memimpin negeri ini selama kurang lebih 35 tahun.
Kontribusi yang diberikan para pemimpin kita saat ini untuk bangsa selain meninggalkan luka bagi rakyat yang selama 63 tahun masih dalam keadaan terjajah. Belanda telah berakhir, Jepang pun memang telah berakhir tetapi IMF, BANK Dunia dan sederet lembaga luar negeri lainnya yang telah menjajah anak bangsa ini.
Negeri yang kaya raya seharusnya menjadikan anak bangsa ini cerdas, rakyatnya sejahtera, pembangunan dimana-mana, keadilan, kesehatan, dan keamanan setiap orang terjamin tanpa memandang status, harkat dan martabatnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya anak bangsa ini terancam kebodohan dan kemiskinan, ditambah lagi sederet penderitaan yang lain seperti kesehatan rakyat miskin yang tergadai kan seakan-akan yang miskin dilarang sakit. Orang miskin seperti tidak layak hidup dimuka bumi ini, pendidikan, kesehatan, keamanan dan kesejahteraan mereka seperti tidak berarti dimana pemerintah. Mana tanggung jawab mereka terhadap rakyat?
Pemilu 2009 tidak lebih hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang korup penghisap darah rakyat. Sejuta fenomena telah terjadi, tinggal menunggu siapa yang akan menjadi agent of change itu.
Kapitalis sekuler telah meracuni kehidupan bangsa ini ditambah lagi kebohongan para penguasa kita yang telah menjadikan rakyat semakin terjajah. Apakah kita semua akan tetap bertahan dalam keadaan seperti ataukah kita akan beranjak dari lumpur penderitaan ini, hanya ada satu pilihan yakni Islam, dan mahasiswa sebagai pelopor nya, sebagai penggerak perubahan ini.